Brebesnews24
PAGUYANGAN, BREBES | – Kondisi memprihatinkan dialami oleh warga sekolah di SD Taraban 6, Kecamatan Paguyangan. Sebagian atap bangunan sekolah runtuh diterjang hujan deras pada Kamis (30/4/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Beruntung peristiwa terjadi saat sekolah dalam keadaan kosong, sehingga tidak ada korban jiwa. Namun, kerusakan yang terjadi cukup parah, terutama pada ruang kelas 1 yang atapnya ambruk akibat konstruksi yang sudah rapuh.
Guru Olahraga, Hendra Darmawan, menjelaskan bahwa sebenarnya kerusakan struktur bangunan sudah terdeteksi sejak lama, khususnya pada bagian kuda-kuda atap. Akibatnya, ruang tersebut sudah dikosongkan sejak Januari lalu karena dinilai sangat membahayakan keselamatan.
“Sejak Januari ruang kelas itu sudah kami kosongkan karena kondisinya sudah tidak layak dan membahayakan,” ungkapnya.
Siswa Terpaksa Belajar Bergantian
Akibat kerusakan ini, proses belajar mengajar terpaksa dilakukan secara darurat. Sebanyak 27 siswa kelas 1 kini harus menumpang di ruang perpustakaan yang sempit. Sementara itu, ruang kelas 3, kelas 5, hingga ruang UKS juga ikut dikosongkan karena berpotensi mengalami keruntuhan yang sama.
Bahkan, siswa kelas 5 kini terpaksa menerapkan sistem belajar bergantian atau shift karena keterbatasan ruang yang aman. Total ada 153 siswa yang terdampak dan harus beradaptasi dengan kondisi yang sangat tidak nyaman ini.
Yang menjadi sorotan tajam, bangunan yang kini rusak parah tersebut merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan pada tahun 2018. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai kualitas pembangunan dan pengawasan yang dilakukan sebelumnya.
Kepala Sekolah, Suslihatun, SPd, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan upaya darurat seperti menurunkan genting yang rawan jatuh dan mengamankan area sekolah.
“Kegiatan belajar tetap berjalan meski harus berpindah tempat dan dilakukan secara bergantian demi keselamatan anak-anak,” jelasnya.
Pihak Korwilcam Satpendik Paguyangan juga telah turun meninjau lokasi. Kasus ini kembali menjadi sorotan akan masih buruknya infrastruktur pendidikan di daerah, yang tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga membahayakan nyawa siswa dan tenaga pendidik.
(BN24)

