BerandaPEMERINTAHANAntara Lahan Garapan dan Penghijauan: Siapa Sebenarnya Berbicara untuk Alam?

Antara Lahan Garapan dan Penghijauan: Siapa Sebenarnya Berbicara untuk Alam?

Brebesnews24

Bumiayu, Brebes | — Lereng Gunung Slamet telah lama menjadi tumpuan hidup ribuan keluarga. Di atas tanahnya yang miring, tanaman kentang tumbuh menjadi komoditas andalan yang menopang perekonomian warga pegunungan. Namun di balik hasil panen yang tampak melimpah, tersembunyi pertanyaan mendasar yang membelah pandangan: apakah aktivitas ini benar-benar membawa kesejahteraan nyata, atau hanya menjadi dalih untuk mengubah wajah alam demi keuntungan sesaat?

Pertanyaan ini menjadi salah satu bahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Tata Kelola Pertanian Berbasis Kelestarian Lingkungan dan Penanggulangan Bencana Alam di Lereng Gunung Slamet, yang digelar Pemerintah Kabupaten Brebes di Pendopo Bumiayu, pada Kamis (18/6/2026).

Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, pelaku usaha, aktivis lingkungan, hingga petani itu pun melahirkan satu kesepahaman penting: menjaga kelestarian alam bukanlah pilihan yang bertentangan dengan kebutuhan ekonomi petani.

Berikut dua sisi pandang yang saling bersilang dan menjadi bahan renungan bersama:
 
🔹 Sisi Pertama: Petani Diuntungkan, atau Hanya Dijadikan Alasan?

Muncul pertanyaan tajam: apakah petani penggarap benar-benar merasakan keuntungan jangka panjang dari perubahan pola tanam dan pemanfaatan lahan ini?

Secara sepintas, hasil panen terlihat menjanjikan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, sering kali keuntungan tersebut hanya berputar di tangan pihak tertentu. Petani justru terjebak dalam lingkaran biaya produksi yang terus membengkak, sementara kesuburan tanah perlahan menurun.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan fungsi kawasan. Pohon-pohon penahan air dan penahan longsor ditebang, digantikan tanaman semusim yang tidak mampu menjaga kestabilan ekosistem. Akibatnya, daya serap air di pegunungan melemah drastis: saat hujan turun, air meluncur deras membawa tanah dan memicu bencana; saat kemarau tiba, justru kekeringan melanda.

Apakah ini disebut kemajuan, atau sekadar menjadikan petani sebagai tameng untuk menghalalkan perusakan alam yang pada akhirnya justru menyengsarakan mereka sendiri?
 
🔹 Sisi Kedua: Penghijauan dan Cinta Alam, Hanya Retorika Kosong?

Di sisi lain, seruan penghijauan, pelestarian hutan, dan semangat pecinta alam pun tidak luput dari sorotan. Banyak pihak mempertanyakan ketulusan di balik seruan tersebut: apakah gerakan menjaga hutan itu benar-benar demi keseimbangan ekosistem, atau sekadar kalimat manis yang menjadi alasan klise untuk kepentingan tersembunyi?

Sering kali aturan yang ditegakkan terasa tidak adil: melarang warga menggarap lahan tanpa memberikan solusi penghidupan yang jelas. Padahal saat tanah kering dan panen gagal, jarang ada bantuan nyata yang datang menyentuh kehidupan mereka.

Apakah suara lantang soal kelestarian alam hanya diucapkan dari balik meja yang sejuk, tanpa merasakan keringat dan perut yang butuh makan di lereng gunung? Jika hanya bisa melarang tanpa memberi jalan, maka menjaga hutan hanyalah jubah indah untuk menutupi kepentingan yang tidak terungkap.

Jalan Tengah yang Harus Dipilih

Forum FGD tersebut menegaskan kembali bahwa tidak ada pihak yang bisa menang sendirian. Seperti disampaikan narasumber dari Universitas Sunan Gunungjati, tanaman kentang sendiri sangat bergantung pada kondisi alam yang sehat: ia butuh suhu sejuk, tanah subur, dan ketersediaan air yang stabil. Jika hutan terus menyusut, maka lambat laun komoditas andalan itu pun akan kehilangan tempat tumbuhnya.

Sebaliknya, larangan tanpa solusi ekonomi hanya akan mendorong warga mencari jalan pintas yang justru lebih merusak. Oleh karena itu, pola pengelolaan berbasis agroforestri menjadi jalan tengah yang ditawarkan: menggabungkan tanaman keras penyangga alam dengan tanaman pertanian, sehingga gunung tetap hijau, air tetap tersedia, dan mata pencaharian petani tetap terjamin.

Pada akhirnya, pilihannya bukan lagi “pilih hutan atau pilih panen“, melainkan: apakah kita cukup jujur membangun sistem yang adil, atau tetap bertahan dengan berbagai dalih yang hanya menguntungkan hari ini dan membiarkan masa depan terbengkalai?

 
(Redaksi)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News