BerandaBERITASyahid di Tepian Pemali, Detik - Detik Gugurnya Bupati Brebes Ke -17...

Syahid di Tepian Pemali, Detik – Detik Gugurnya Bupati Brebes Ke -17 KH. Syatori.

Brebesnews24.com

BREBES | – Menjelang Hari jadi Kabupaten Brebes Yang Ke 348 tahun (18 Januari 1678 – 18 Januari 2026) Banyak lembar sejarah Brebes yang belum tercatat dalam buku resmi, hanya hidup dalam ingatan keluarga para pejuang. Salah satunya adalah kisah KH. Syatori, Bupati Brebes ke-17 yang gugur di tangan pasukan NICA pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947.

Cerita ini berasal dari penuturan anak bungsunya, Almh. Hj. Chozanah, yang pada tahun 2020 masih menyimpan memori tentang ayahnya dengan sangat jernih.

Chozanah lahir pada 9 Juli 1947 – hanya dua pekan sebelum suasana Brebes berubah drastis menjadi ladang perburuan. Belanda kembali menginvasi dengan tujuan menangkap para pemimpin Republik, dan Syatori yang saat itu memimpin pemerintahan daerah menjadi target utama.

“Usia saya baru setengah bulan ketika Bapak pamit pergi,” mencoba menceritakan kembali kenangan kisah yang dia dengar dari ibunya.

Untuk menyelamatkan keluarga, Syatori memerintahkan istri tercinta, Hindun, untuk mengungsi ke Songgom bersama empat anak mereka. Sementara itu, dirinya sendiri berpindah ke Desa Wangandalem, tempat pusat pemerintahan Brebes dipindahkan secara darurat.

Hindun sebenarnya ingin mendampingi suaminya, namun Syatori menolaknya tegas. Sebelum berpisah, ia meminta gelang emas satu-satunya yang dimiliki istri untuk dijual sebagai bekal hidup selama pengungsian. Bayangkan betapa beratnya perjalanan seorang ibu yang baru saja melahirkan belum genap sebulan harus berjalan kaki sejauh 21 kilometer dari Kauman ke Songgom, dengan menggendong bayi Chozanah yang masih merah menyala. Jalan sunyi dan bergelombang itu menjadi saksi bisu akan keteguhan hati seorang istri yang memilih bertahan demi anak-anaknya.

Bahkan di Songgom, mereka tidak menemukan keamanan yang diharapkan. Suatu ketika, tentara Belanda menemukan tempat persembunyian Hindun dan berniat merampas perhiasan yang tersisa. Dengan naluri seorang ibu yang luar biasa, Hindun segera menyembunyikannya di tempat sampah yang berisi “kotoran” bayinya. Tentara Belanda merasa jijik dan pergi, sehingga perhiasan itu selamat.

Karena tekanan dari pasukan penjajah semakin mengerikan, Hindun terpaksa kembali berjalan kaki membawa empat anaknya, kali ini menuju Cerih, Jatinegara, Kabupaten Tegal. Di sana mereka hidup dalam kegelapan informasi tentang Syatori – tidak ada surat, tidak ada pesan, hanya ketidakpastian yang menyelimuti setiap hari.

Baru setelah setahun berlalu, ketika situasi mulai mereda dan keluarga kembali ke Kauman, kabar getir akhirnya datang: Syatori telah ditembak oleh pasukan Belanda.

Kisah paling mengena datang dari seorang warga Songgom bernama Tirnya. Ia melihat banyak mayat dilarungkan di Sungai Pemali, mengarungi aliran menuju laut. Namun di antara tubuh-tubuh tak dikenal itu, ada satu jasad yang aneh – setiap kali arus menggesernya ke hilir, jasad itu justru kembali mengapung ke tepian semula.

Merasa ada yang berbeda, Tirnya bersama warga sekitar mengangkat jasad tersebut. Mereka terkejut melihat atribut pakaian yang menunjukkan bahwa lelaki ini adalah seorang bupati. Di saku pakaiannya, masih tergenggam gelang milik Hindun – tanda terakhir cinta yang pernah diberikan istri sebelum mereka berpisah.

Jasad KH. Syatori awalnya dimakamkan secara diam-diam di Songgom. Beberapa bulan kemudian, setelah merasa aman, Tirnya mencari keluarga Syatori dan menceritakan seluruh peristiwa. Rencana untuk memindahkan makam ke Brebes harus dibatalkan karena situasi yang belum kondusif, sehingga akhirnya jasad ditempatkan di Talang, Tegal, dekat dengan keluarga Hindun.

KH. Syatori lahir pada tahun 1912, menjabat sebagai Bupati pada usia 33 tahun, dan gugur sebagai syahid di usia 35 tahun. Ia meninggalkan istri Hindun (yang wafat tahun 1976) serta empat anak: Choridah, Abdul Munif, Syaefullah, dan Chozanah. Di hari-hari terakhirnya, Syatori selalu membawa kitab Dalailul Khairat – kumpulan wirid, doa, dan shalawat – seolah-olah ia telah merasakan bahwa dirinya akan menempuh perjalanan yang tak akan pernah kembali…

Sumber : Pesona Ketanggungan

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News