Brebesnews24
Cilibur,BREBES | — Ketika akses jalan terputus, bukan hanya kendaraan yang berhenti melintas. Lebih dari itu, seluruh aktivitas penting masyarakat mulai dari roda perekonomian, kegiatan pendidikan, hingga layanan kesehatan pun ikut terhambat. Kondisi inilah yang mendorong warga Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, bergerak bersama dan bergotong royong memperbaiki jalur penghubung yang rusak, tanpa harus menunggu kepastian bantuan dari pihak berwenang.
Jalan kabupaten ruas Langkap–Cilibur yang terletak di Dukuh Krajan ini bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah. Bagi warga setempat, jalan ini adalah urat nadi kehidupan yang menghubungkan mereka dengan pusat pasar sebagai pusat perekonomian, menjadi jalur perjalanan anak-anak menuju sekolah, sekaligus akses utama menuju fasilitas pelayanan kesehatan.
“Ini adalah jalan yang sangat vital. Melalui jalur ini warga berdagang, anak-anak pergi belajar, dan masyarakat membutuhkannya untuk menjangkau layanan kesehatan,” ungkap Ahmad Sopani selaku koordinator warga, pada Senin (27/4/2026).
Dengan mengandalkan swadaya sepenuhnya, warga bahu-membahu membangun jalan sepanjang 45 meter dengan lebar 3 meter menggunakan konstruksi beton bertulang setebal 20 sentimeter. Tak berhenti di situ, mereka juga merencanakan pembangunan tembok penahan tanah setinggi 5 meter sepanjang jalur tersebut sebagai pelindung tebing agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Biaya yang dikeluarkan dari kas bersama warga diperkirakan mencapai Rp300 juta.
Langkah ini diambil karena hingga saat ini belum ada kejelasan kapan pemerintah akan merealisasikan rencana pemindahan jalur jalan tersebut. Bagi masyarakat, menunggu terlalu lama sama saja dengan membiarkan kelancaran hidup mereka terus terganggu. Meskipun telah berusaha sendiri, harapan akan dukungan pemerintah tetap ada, terutama untuk pembangunan pengaman tebing di sepanjang aliran Sungai Longkrang yang dikenal sebagai titik rawan bencana.
Sebelumnya, pada Minggu (8/3/2026) dini hari, hujan lebat yang mengakibatkan banjir di aliran Sungai Longkrang telah memicu longsor besar. Tebing setinggi sekitar 30 meter ambrol dan memutus akses jalan sepenuhnya. Bencana ini juga merusak fasilitas mandi, cuci, dan kakus milik SMP Muhammadiyah 03 Paguyangan, sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke tempat lain untuk sementara waktu.
Upaya yang dilakukan warga ini membuktikan bahwa jalan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kebutuhan dasar yang menunjang keberlangsungan hidup. Semangat swadaya yang mereka tunjukkan menjadi bukti nyata kekuatan kebersamaan masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa keterlambatan penanganan masalah publik dapat berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga.
(BN24)

