BerandaINFO DESABANK PLECIT "Rentenir" : benci tapi rindu.

BANK PLECIT “Rentenir” : benci tapi rindu.

Brebesnews24.com

BREBES | – Sekarang lagi ada tren baru, musim masang spanduk perlawanan. Bunyinya gagah sekali:
WARGA MENOLAK BANK PLECIT!”
Spanduknya kuning ngejreng, hurufnya merah tebal, nadanya heroik seperti mau mengusir tentara kempetai dari kampung.

Masalahnya, yang datang bukan tentara kempetai.
Yang datang cuma motor bebek, tas selempang, senyum ramah, dan kalimat sakti:
“Bu, kalau butuh dana cepat, ada kok…

Mak pernah ada di fase hidup begitu. Gaji mingguan masuk hari Senin, hari Rebo sudah tinggal cerita. Mau gaya hidup Eropa? Jangankan jalan-jalan ke Paris, makan pagi pakai pindang dan makan malam pindang yang sama cuma dibalik posisinya saja kadang belum tentu cukup sampai akhir Minggu.?

Di situ biasanya hidup mulai memberi kuis dadakan:
* Sekolah anak kirim pesan: “Besok bawa uang kegiatan.”
* Madrasah bilang: “Ada iuran kecil.” (kata “kecil” ini sering sangat optimis)
* RT tiba-tiba keliling: “Iuran kebersihan, keamanan, ketertiban, dan entah apa lagi.”

Pada titik itu, manusia mulai mempertimbangkan opsi ekstrem.
Mak sempat kepikiran pindah ke Mars. Tapi setelah dipikir-pikir… jangan-jangan di sana juga banyak wong ndue gawe.

Kalau sudah begini, pilihan finansial warga biasanya tinggal tiga:
1. Bank? Syaratnya seperti melamar jadi astronot.
2. Saudara? Lagi pada mode offline.
3. Warung sebelah? Sudah tutup buku, bukan karena bangkrut, tapi karena hutang Mak sudah berjilid-jilid.

Dan di saat semua pintu itu tertutup, muncullah pahlawan ekonomi paling responsif di bumi Nusantara… ya itu tadi. Si motor bebek dengan tas selempang.

Cepat.
Tanpa analisis usaha.
Tanpa survei rumah tiga kali.
Tanpa ditanya visi-misi hidup.

Nah, di sinilah drama kampung sering salah fokus. Kita sibuk mengusir orangnya, tapi lupa membahas alasannya kenapa dia selalu diterima ???

Mak tidak sedang membela bank plecit. Bunganya itu kalau dihitung kadang bikin kalkulator panas, bahkan Excel bisa minta pensiun dini.

Tapi kalau kita mau jujur sedikit saja, masalahnya bukan cuma si pemberi pinjaman.
Masalahnya adalah kenapa warga sangat membutuhkan pinjaman yang super cepat itu.

Karena bagi orang yang dapurnya sering memasuki fase “tanggal tua meditasi sambil menatap galon kosong”, yang penting bukan bunga rendah.

Yang penting: uangnya muncul dulu sebelum masalahnya ikut muncul lebih besar.

Bandingkan saja.
Bank resmi:
“Pengajuan diproses 14 hari kerja.”

Kebutuhan warga:
Besok anak harus bayar.”

Ini bukan sekadar beda sistem.
Ini sudah beda planet.

Mak kadang mikir begini:
Spanduk menolak bank plecit itu bagus. Artinya warga sadar ada masalah.

Tapi kalau setelah spanduk dipasang, tidak ada: pelatihan ketrampilan, edukasi keuangan, koperasi warga yang benar-benar hidup, atau akses modal kecil yang manusiawi, maka spanduk itu akhirnya cuma jadi dekorasi kampung.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Bagaimana cara mengusir bank plecit?”

Tapi yang lebih penting:
Kenapa warga masih membutuhkannya?”

Karena selama dapur warga masih sering kehabisan gas di tanggal tua, yakinlah Mak…

Spanduk bisa pudar kena hujan.
Tulisan bisa robek kena badai.
Tapi kebutuhan mendadak warga…
itu tidak pernah ikut terbang
, hilang, menguap.

Dan selama kebutuhan itu masih ada,
motor bebek dengan tas selempang itu akan selalu menemukan jalan masuk ke gang kita.

Bahkan tanpa perlu membaca spanduk sama sekali.

Tulisan ini disadur dari
Sumber: ida Faridah

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News