Brebesnews24.com
BUMIAYU, Selatan BREBES |- Seharian jagat Brebes Selatan riuh rendah membahas pemekaran wilayah. Spanduk semangat berkibar, narasi perjuangan berseliweran, dan janji kesejahteraan terdengar manis seperti teh panas pagi hari.
Ratusan pasang mata melihat’ dan mungkin akan menjadi saksi sejarah, gimana Puluhan orang dengan penampilan rapi, memberikan edukasi ataukah sekedar “Opini” di sebuah pendopo di kecamatan Bumiayu, Minggu (19/4/2026)
Suara bergemuruh melepas dua pemuda desa’ yang “Polos” berjalan Ratusan kilometer untuk membawa “Aspirasi ” yang mungkin mereka berdua pun tidak begitu mengerti…
Namun para yang katanya “Panitia” dengan pakaian rapi, bahkan batik bak pemimpin negeri hanya bersorak dan tidak ikut berjalan kaki mengawal Aspirasi..
Apakah ini yang di sebut perjuangan.. ataukah cukup doa’ dari mereka untuk mengiringi dua pemuda pejalan kaki..?


Masyarakat yang melek informasi dan memiliki kecerdasan sosial seperti kebanyakan warga Brebes Selatan biasanya tidak akan mudah terbawa arus oleh sebuah gerakan yang mengatasnamakan kepentingan publik.
Mereka akan menilai sebuah gerakan dengan cara sederhana: lihat siapa yang paling diuntungkan ketika tujuan gerakan itu tercapai.
Apakah yang diperoleh adalah manfaat nyata bagi masyarakat, atau justru kuasa, jabatan, dan keuntungan bagi segelintir orang?
Mereka juga pasti menelusuri penggeraknya, bagaimana rekam jejaknya, serta kepentingan apa yang selama ini mereka perjuangkan.
Mereka sangat paham, gerakan yang benar-benar lahir untuk rakyat akan terbuka, jujur, dan berpihak pada kepentingan bersama. Sebaliknya, gerakan yang dibungkus dengan narasi kepentingan umum tetapi diarahkan demi ambisi elite biasanya meninggalkan jejak kepentingan yang mudah terbaca.
Karena itu bagi warga kebanyakan, sikap kritis adalah benteng terbaik agar tidak menjadi alat bagi agenda orang lain.
Kalau Mak sih, sebagai pejuang dapur yang tiap hari bertarung sama bawang merah, minyak goreng, dan kompor yang apinya suka drama, justru penasaran sama dua pemuda desa polos itu.
Dua anak muda yang nekat melangkah kaki, tanpa patwal, tanpa mobil dinas, cuma berbekal tekad dan sendal jepit, menembus ganasnya jalur perjalanan sampai ke pusat pemerintahan provinsi.


Ya Allah… itu sandal jepit bukan sekadar alas kaki, tapi saksi bisu perjuangan. Tiap langkahnya penuh debu, tiap peluhnya penuh harap. Sementara yang lain bisa ngadem di atas kursi empuk dalam ruang ber-AC, mereka malah membuktikan niat dengan kaki yang nyaris melepuh.
Mak cuma bisa mbatin, “Nak, kalau perjuanganmu tulus demi rakyat, itu sandal jepit kelak bisa lebih bersuara daripada seribu pidato pejabat.”
Sebab di Yaumil Hisab nanti, mungkin saja sandal jepit itu bersaksi: bahwa pernah ada dua pemuda desa yang berjalan jauh bukan demi jabatan, tapi demi harapan.
Dan jujur ya, sebagai emak-emak, Mak terharu… sekaligus gemes.
Lain kali kalau mau berjuang segitunya, kabari Mak dulu. Biar minimal dibawain nasi bungkus sama minyak kayu putih. Perjuangan itu penting, tapi masuk angin juga nyata adanya…
Tulisan ini disadur dari :
Emak ida Farida
Editor: (Redaksi BN24)

