BerandaBERITASurat Terbuka Wali Murid: Peringatan Hari Kartini Jangan Hanya Berhenti di Busana...

Surat Terbuka Wali Murid: Peringatan Hari Kartini Jangan Hanya Berhenti di Busana dan Riasan

Brebesnews24

Bumiayu, Selatan BREBES | – Seorang wali murid menyampaikan kegelisahannya melalui surat terbuka yang ditujukan kepada seluruh pemangku kepentingan dunia pendidikan, mulai dari jajaran Dinas Pendidikan, komite sekolah, kepala sekolah, para pendidik, hingga aktivis pendidikan. Surat yang berisi pertanyaan dan harapan tersebut menyoroti cara peringatan Hari Kartini yang selama ini dilaksanakan di lingkungan sekolah, yang dinilai lebih banyak menonjolkan aspek penampilan dibandingkan makna dan nilai perjuangan yang sesungguhnya.

Berikut Petikan isinya, Selasa (21/4/2025) bertepatan dengan peringatan Hari Kartini

SURAT TERBUKA UNTUK PARA PENJAGA DUNIA PENDIDIKAN

Kepada Yth:
Kepala Dinas Pendidikan, Komite Sekolah, Kepala Sekolah, Guru-guru, dan Aktivis Pendidikan.

Bapak/Ibu yang terhormat,

Sebagai emak-emak biasa yang tiap pagi lebih akrab dengan sisir kusut, kaos kaki hilang sebelah, dan uang jajan yang selalu terasa kurang, izinkan saya bertanya dengan polos:

Kartini itu menjadi sumber inspirasi karena menulis atau karena bersolek?

Karena terus terang, tiap tanggal 21 April yang ramai justru lomba dandan: anak-anak dipoles bak mau kondangan besar-besaran. Rambut disasak, pipi dipoles, kebaya disewa, bahkan ada yang rela antre salon dari subuh. Semangatnya luar biasa. Tapi Mak sering bertanya dalam hati: Apakah Kartini tersenyum bangga melihat ini alam kubur, atau justru bingung karena surat-suratnya kalah ramai dengan hairspray?

Bukankah Kartini dikenal bukan karena lipstiknya, tapi karena pikirannya? Ia menulis. Ia menggugat. Ia menyuarakan kesetaraan, pendidikan, kebebasan berpikir, dan martabat manusia. Senjatanya bukan sanggul, tapi pena.

Namun entah kenapa, peringatan Hari Kartini di sekolah kini lebih mirip festival busana daripada festival gagasan. Anak-anak diajari memakai kebaya, tapi belum tentu diajak menulis isi kepala mereka. Mereka diminta tampil anggun, tapi belum tentu diberi ruang untuk berpikir kritis.

Lucunya, demi memperingati perempuan yang memperjuangkan pendidikan, para orang tua justru sibuk memikirkan: “Sewa kebayanya berapa?” “Make up anak di mana?” “Salon yang murah tapi hasilnya tetap cetar di mana?”

Padahal kondisi ekonomi sedang seperti sekarang, tugas menulis puisi atau surat tentang cita-cita jelas lebih ramah dompet daripada paket rias anak Kartinian.

Mak merasa, semangat Kartini sedang kita bungkus terlalu rapat dengan kain brokat, sampai isi pikirannya sulit bernapas.

Bukan berarti Mak anti kebaya. Tidak. Kebaya itu indah, budaya itu penting. Anak-anak mengenal budaya lewat pakaian tradisional tentu baik. Tapi alangkah sayangnya kalau makna Kartini berhenti di kain dan sanggul.

Kalau hanya berdandan, salon juga bisa.Tapi kalau belajar berpikir dan menulis, itu baru sekolah.

Maka izinkan kami, para wali murid yang saldo rekeningnya sering lebih tipis dari alis anak saat dirias, mengajukan gugatan kecil penuh harap:

Mengapa Hari Kartini tidak lebih banyak diisi dengan kegiatan menulis surat, membaca gagasan Kartini, lomba opini anak, atau ruang bagi murid untuk menyampaikan pikiran mereka?

Bayangkan betapa indah jika tiap anak menulis: “Kalau aku jadi Kartini hari ini…” atau “Sekolah impianku adalah…”

Bukankah itu jauh lebih dekat dengan ruh perjuangan Kartini?

Karena jujur saja, setelah acara selesai, sanggul dibuka, kebaya dilepas, lipstik dihapus.Tapi kemampuan berpikir dan menulis bisa tinggal seumur hidup.

Jangan sampai anak-anak mengenal Kartini hanya sebagai “hari pakai kebaya”, bukan sebagai simbol keberanian berpikir.

Kalau Kartini dulu hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan menulis begini:

“Habis gel rambut terbitlah tagihan.”

Maafkan bila surat ini terdengar receh, tapi kegelisahan kami sungguh nyata. Kami hanya berharap dunia pendidikan tidak berhenti merayakan simbol, tapi juga menghidupkan nilai.

Karena memperingati Kartini tanpa menumbuhkan budaya berpikir dan menulis, ibarat merayakan hari nelayan tanpa pernah menyentuh laut.

Semoga Bapak/Ibu berkenan merenungkan ini: Jangan sampai anak-anak tampil seperti Kartini, tapi tidak sempat belajar berpikir seperti Kartini.

Terima kasih.

Hormat kami,
Wali murid yang lebih kuat beli buku daripada bayar tagihan salon.”,

Tulisan di sadur dari: ida Faridah

Editor : Redaksi BN24

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News